Sabtu, 15 Maret 2014

Ilmu Budaya Dasar

Ilmu Budaya Dasar dikembangkan di Indonesia sebagai pengganti istilah Basic Humanities yang berasal dari istilah bahasa Inggris “The Humanities’. Adapun istilah Humanities itu sendiri berasal dari bahasa Latin Humanus yang bisa diartikan manusiawi, berbudaya dan halus (fefined). Dengan mempelajari The Humanities diandaikan seseorang ‘akan bisa mcnjadi lebih manusiawi, lebih berbudaya dan lebih halus. Secara demikian bisa dikatakan bahwa The Humanities berkaitan dengan masalah nilai-nilai, yaitu nilai-nilai manusia sebagai homo humanus atau manusia berbudaya. Agar. manusia bisa menjadi humanus, mereka harus mempelajari ilmu yaitu The Humanities di samping tidak mehinggalkan tanggung jawabnya yang lain sebagai manusia itu sendiri. Secara umum tujuan Ilmu Budaya Dasar adalah Pembentukan dan pengembangan keperibadian serta perluasan wawasan perhatian, pengetahuan dan pemikiran mengenai berbagai gejala yang ada dan timbul dalam lingkungan, khususnya gejala-gejala berkenaan dengan kebudayaan dan kemanusiaan, agar daya tanggap, persepsi dan penalaran berkenaan dengan lingkungan budaya dapat diperluas, Berikut ada dasar mengenai Ilmu Budaya Dasar yaitu Manusia dan Kebudayaan dan juga Konsep Ilmu Budaya Dasar dan Kesastraan
  
I. Manusia dan Kebudayaan
    a. Hakekat Manusia
Manusia di alam dunia ini memegang peranan yang unik, dan dapat dipandang dari
banyak segi. Dalam ilmu eksakta, manusia dipandang sebagai kumpulan dari partikel-partikel
atom yang membentuk jaringan-jaringan sistem yang dimiliki oleh manusia (ilmu kimia).
manusia merupakan kumpulan dari berbagai sistem fisik yang saling terkait satu sama lain
dan mempakan kumpulan dari energi (ilmu Fisika). manusia merupakan mahluk biologis
yang yang tergolong dalam golongan mahluk mamalia (biologi). Dalam ilmu-ilmu sosial,
manusia merupakan mahluk yang ingin memperoleh keuntungan atau selalu memperhitungkan
setiap kegiatan, sering disebut homo economicus (ilmu ekonomi), manusia merupakan mahluk
sosial yang tidak dapat berdiri sendiri (sosiologi), mahluk yang selalu ingin mempunyai
kekuasaan (politik), mahluk yang berbudaya, sering disebut homo-humanus (filsafat), dan
lain sebagainya

 A. Unsur-unsur yang membangun manusia
      Ada dua pandangan yang akan kita jadikan acuan untuk menjelaskan tentang unsur-unsur
yang membangun manusia.
1) Manusia itu terdiri dari empat unsur yang saling terkait, yaitu
a. Jasad, yaitu : badan kasar manusia yang nampat pada luamya. dapat diraba dan
   difoto, dan menempati ruang dan waktu 
b. hayat. yaitu : mengandung unsur hidup, yang ditandai dengan gerak 
c. ruh. yaitu : bimbingan dan pimpinan Tuhan. daya yang bekerja secara spiritual dan
    memahami kebenaran. suatu kemampuan mencipta yang bersifat konseptual yang
    menjadi pusat lahimya kebudayaan 
d. nafs, dalam pengertian diri atau keakuan. yaitu kesadaran tentang diri sendiri 

2) Manusia sebagai satu kepribadian mengandung tiga unsur, yaitu :
a. Id, yang merupakan struktur kepribadian yang paling primitif dan paling tidak nampak.
    Id merupakan libido murni` atau energi psikis yang menunjukkan ciri alami yang
    irrasional dan terkait dengan sex` yang secara instingtual menentukan proses-proses
    ketidaksadaran (unconcious). Id tidak berhubungan dengan lingkungan luar diri,
    tetapi terkait dengan struktur lain kepribadian yang pada gilirannya menjadi mediator
    antara insting Id dengan dunia luar. Terkukung dari realitas dan pengaruh sosial. Id
    diatur oleh prinsip kesenangan` mencari kepuasan instingtual libidinal yang harus
    dipenuhi baik secara langsung melalui pengalaman seksual. atau tidak langsung
    melalui mimpi atau khayalan. Proses pemenuhan kepuasan yang disebutkan terakhir
    yang dilakukan secara tidak langsung disebut sebagai proses primer. Obyek yang
    nyata dari pemuasan kebutuhan langsung dalam prinsip kesenangan ditentukan oleh
    tahap psikoseksual dari perkembangan individual,
b. Ego. merupakan bagian atau struktur kepribadian yang pertama kali dibedakan dari
    Id, seringkali disebut sebagai kepribadian “eksekutif` karena peranannya dalam
    menghubungkan energi Id ke dalam saluran sosial yang dapat dimengerti oleh orang
    lain. Perkembangan ego terjadi antara usia satu dan dua tahun, pada saat anak secara
    nyata berhubungan dengan lingkungannya. Ego diatur oleh prinsip realitas, Ego
    sadar akan tuntunan lingkungan luar. dan mengatur tingkah laku sehingga dorongan
    instingtual Id dapat dipuaskan dengan cara yang dapat diterima. Pencapaian
    obyek-obyek khusus untuk mengurangi energi libidinal dengan cara yang dalam 
    lingkungan sosial dapat diterima disebut sebagai proses sekunder.
c. Superego, merupakan struktur kepribadian yang paling akhir. muncul kita-kira pada
    usia lima tahun. Dibandingkan dengan Id dan ego, yang berkembang secara intemal
    dalam diri individu, superego terbentuk dari lingkungan ekstemal.
    Jadi superego merupakan kesatuan standar-standar moral yang diterima oleh ego dari sejumlah
    agen yang mempunyai otoritas di dalam lingkungan luar diri, biasanya merupakan
    asimilasi dari pandangan-pandangan orang tua. Baik aspek negatif maupun positif
    dari standar moral tingkah laku ini diwakilkan atau ditunjukkan oleh superego.
    Kode moral positif disebut ego ideal, suatu perwakilan dari tingkah laku yang tepat
    bagi individu untuk dilakukan.. Kesadaran membentuk aspek negatif dari superego,
    dan menentukan hal-hal mana yang termasuk dala katagori tabu, yang mengatur
    bahwa penyimpangan dari aturan tersebut akan menyebabkan dikenakannya sangsi.
    Superego dan Id berada dalam kondisi konflik langsung, dan ego menjadi penengah
    atau mediator. Jadi superego menunjukkan pola aturan yang dalam derajat tertentu
    menghasilkan kontrol diri melalui sistem imbalan dan hukuman yang terintemalisasi.
    (Freud, dalam Brennan, 1991; hal 205-206)
   Dari uraian di atas dapat mengkaji aspek tindakan manusia dengan analisa hubungan
   antara tindakan dan usur-unsur manusia. Seringkali, misalnya orang yang senang terhadap
   penyimpangan terhadap nilai-nilai masyarakat dapat diidentifikasi bahwa orang tersebut lebih
   dikendalikan oleh Id dibanding super ego-nya, atau seringkali ada kelainan yang terjadi pada
   manusia, misalnya orang yang berparas buruk dan bertubuh pendek berani tampil ke muka
   umum, dapat diterangkan dengan mengacu pada unsur nafs (kesadaran diri) yang dimiliki
   oleh manusia. Kesemua unsur tersebut dapat digunakan sebagai alat analisa bagi tingkah laku
   manusia.

   B. Pengertian Hakekat Manusia
Manusia adalah ciptaan Tuhan sebagai makhluk hidup yang paling sempurna, melebihi ciptaan Tuhan yang lain. Manusia terdiri dari jiwa dan raga yang dilengkapi dengan akal pikiran serta hawa nafsu. Tuhan menanamkan akal dan pikiran kepada manusia agar dapat digunakan untuk kebaikan mereka masing – masing dan untuk orang di sekitar mereka. Manusia diberikan hawa nafsu agar mampu tetap hidup di bumi ini. Salah satu hakekat manusia lainnya ialah manusia sebagai makhluk sosial, hidup berdampingan satu sama lain, berinteraksi dan saling berbagi.

   C. Perbedaan manusia dengan makhluk lain
Kesempumaannya terletak pada adab dan budayanya, karena manusia dilengkapi oleh
penciptanya dengan akal, perasaan, dan kehendak yang terdapat didalam jiwa manusia. Dengan
akal (ratio) manusia mampu menciptakan ilmu pengetahuan dan teknologi. Adanya nilai baik
dan buruk, mengharuskan manusia marnpu mempertimbangkan, menilai dan berkehendak
menciptakan kebenaran, keindahan, kebaikan atau sebaliknya. Selanjutnya dengan adanya
perasaan, manusia mampu menciptakan kesenian. Daya rasa (perasaan) dalam diri manusia
itu ada dua macam, yaitu perasaan inderawi dan perasaan rohani. Perasaan inderawi adalah
rangsangan jasmani melalui pancaindra. tingkatnya rendah dan terdapat pada manusia atau
binatang. Perasaan rohani adalah perasaan luhur yang hanya terdapat pada manusia
misalnya :
      1) Perasaan intelektual. yaitu perasaan yang berkenaan dengan pengetahuan. Seseorang
merasa senang atau puas apabila ia dapat mengetahui sesuatu, sebaliknya tidak senang
atau tidak puas apabila ia tidak berhasil mengetahui sesuatu.
      2) Perasaan estetis.yaitu perasaan yang berkenan dengan keindahan. Seseorang merasa
senang apabila ia melihat atau mendengar sesuatu yang indah. sebaliknya timbul perasaan
kesal apabila tidak indah.
      3) Perasaan etis. yaitu perasaan yang berkenaan dengan kebaikan. Seseorang merasa senang
apabila sesuatu itu baik, sebaliknya perasaan benci apabila sesuatu itu jahat.
      4) Perasaan diri, yaitu perasaan yang berkenaan dengan harga diri karena ada kelebihan
dari yang lain. Apabila seseorang memiliki kelebihan pada dirinya, ia merasa tinggi,
angkuh, dan sombong, sebaliknya apabila ada kekurangan pada dirinya ia merasa rendah
diri (minder)
      5) Perasaan sosial. yaitu perasaan yang berkenaan dengan kelompok atau korp atau hidup
bermasyarakat, ikut merasakan kehidupan orang lain. Apabila orang berhasil, ia ikut
senang. apabila orang gagal, memperoleh musibah, ia ikut sedih.
      6) Perasaan religius, yaitu perasaan yang berkenaan dengan agama atau kepercayaan.
Seseorang merasa tentram jiwanya apabila ia tawakal kepada Tuhan, yaitu mematuhi
segala perintah - Nya dan menjauhi larangan - Nya.
Adanya kehendak dari setiap manusia mampu menciptakan perilaku tentang kebaikan
menurut moral.

  D. Kepribadian Bangsa Timur dan Bagan Psiko-sosiagram
Banyak orang masih sering mempersoalkan perbedaan antara kebudayaan Barat dan
kebudayaan Timur. Padahal konsep itu berasal dari orang Eropa Barat dalam zaman ketika
mereka berexpansi menjelajahi dunia, menguasai wilayah luas di Afrika, Asia dan Oseania.
dan memantapkan pemerintah-pemerintah jajahan mereka dimana-mana. Semua kebudayaan
di luar kebudayaan mereka di Eropa Barat disebutnya kebudayaan Timur, sebagai lawannya
kebudayaan mereka sendiri yang mereka sebut kebudayaan Barat.
Orang-orang yang sering mendiskusikan kontras antara kedua konsep tersebut secara
populer, bisanya menyangka bahwa Kebudayaan Timur lebih mementingkan kehidupan
kerohanian, mistik, pikiran preologis, keramahtamahan` dan gotong royong. Sedangkan
kebudayaan Barat lebih mementingkan kebendaan, pikiran logis. hubungan asas guna
(hubungan hanya berdasarkan prinsip guna)` dan individualisme


b. Kebudayaan

    A. Pengertian Kebudayaan
Pengertian kebudayaan adalah suatu cara hidup yang berkembang dimana yang dimiliki oleh bersama oleh suatu kelompok yang diwariskan dalam suatu kelompok hidup masyarakat budaya besifat kompleks,abstrak, dan luas. Kebudayaan adalah kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan,
kesenian, moral, hukum, adat istiadat dan kemampuan kemampuan lain serta kebiasaanKebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat budaya sudah turun temurn dari generasi pertama sampai generasi sekarang yang didalamnya terkandung pengetahuan dalam bahasa inggris kebudayaan disebut dengan culture bisa diartikan juga sebagai mengolah tanah atau berani Bahasa, sebagaimanajuga budaya merupakan bagian tak terpisahkan dari diri manusia sehingga banyak orang cenderung menganggapnya diwariskan secara genetis. Ketika seseorang berusaha berkomunikasi dengan orang-orang yang berbeda budaya dan menyesuaikan perbedaan-perbedaannya, membuktikan bahwa budaya itu dipelajari. Beberapa alasan mengapa orang mengalami kesulitan ketika berkomunikasi dengan orang dari budaya lain terlihat dalam definisi budaya: Budaya adalah suatu perangkat rumit nilai-nilai yang dipolarisasikan oleh suatu citra yang mengandung pandangan atas keistimewaannya sendiri. Citra yang memaksa itu mengambil bentuk-bentuk berbeda dalam berbagai budaya seperti individualisme kasar di Amerika, keselarasan individu dengan alam di Jepang dan kepatuhan kolektif di Cina.

  B. 7 Unsur Kebudayaan
Kluckhohn di dalam karyanya berjudul Universal Categories ofCulture
mengemukakan, bahwa ada tujuh unsur kebudayaan universal,yaitu :
l.  Sistem Religi (sistem kepercayaan).
    Merupakan produk manusia sebagai homo religieus. Manusia yang memiliki
    kecerdasan pikiran dan perasaan luhur, tanggap bahwa di atas kekuatan dirinya terdapat
    kekuatan lain yang maha besar. Karena itu manusia takut, sehingga menyembahnya dan
    lahirlah kepercayaan yang sekarang menjadi agama.
2. Sistem organisasi kemasyarakatan.
    Merupakan produk dari manusia sebagai homo socius. Manusia sadar bahwa tubuhnya
    lemah, namun memiliki akal, maka disusunlah organisasi kemasyarakatan dimana manusia
    bekerja sama untuk meningkatkan kesejahteraan hidupnya.
3. Sistem pengetahuan.
    Merupakan produk manusia sebagai homo sapiens. Pengetahuan dapat diperoleh
    dari pemikiran sendiri, disamping itu didapat juga dari orang lain. Kemampuan manusia
    mengingat- ingat apa yang telah diketahui kemudian menyarnpaikannya kepada orang
    lain melalui bahasa, menyebabkan pengetahuan menyebar luas. Lebih-lebih bila
    pengetahuan itu dibukukan, maka penyebarannya dapat dilakukan dari satu generasi ke
    generasi berikutnya.
4. Sistem mata pencaharian hidup dan sistem-sistem ekonomi.
    Merupakan produk manusia sebagai homo economicus menjadikan tingkat kehidupan
    manusia secara umum terus meningkat.
5. Sistem Teknologi dan Peralatan.
    Merupakan produk dari manusia sebagai homo faber. Bersumber dari pemikirannya
    yang cerdas dan dibantu dengan tangannya yang dapat memegang sesuatu dengan
    erat,manusia dapat membuat dan mempergunakan alat. Dengan alat-alat ciptaannya itulah
    manusia dapat lebih mampu mencukupi kebutuhannya daripada binatang
6. Bahasa.
    Merupakan produk dari manusia sebagai homo longuens. Bahasa manusia pada
    mulanya diwujudkan dalam bentuk tanda (kode) yang kemudian disempumakan dalam
    bentuk bahasa lisan, dan akhimya menjadi bentuk bahasa tulisan.
7. Kesenian.
    Merupakan hasil dari manusia sebagai homo aesteticus. Setelah manusia dapat
    mencukupi kebutuhan fisiknya, maka dibutuhkan kebutuhan psikisnya untuk dipuaskan.
    Manusia bukan lagi semata-mata memenuhi kebutuhan isi perut saja, mereka juga perlu
    pandangan mata yang indah, suara yang merdu, yang semuanya dapat dipenuhi melalui
    kesenian.

  C. 3 Wujud Kebudayaan
Menurut dimensi wujudnya, kebudayaan mempunyai tiga wujud yaitu
 l.Kompleks gagasan, konsep, dan pikiran manusia (Ideal) :
   Wujud ini disebut sistem budaya, sifatnya abstrak, tidak dapat dilihat, dan berpusat pada
   kepa1a-kepala manusia yang menganutnya. atau dengan perkataan lain, dalam alam pikiran
   warga masyarakat dimana kebudayaan bersangkutan hidup. Kalau warga masyarakat tadi
   menyatakan gagasan mereka dalam tulisan, maka lokasi dari kebudayaan ideal sering berada
   dalam karangan dan buku-buku hasil karya para penulis warga masyarakat yang bersangkutan.
   Sekarang kebudayaan ideal juga banyak tersimpan dalam disk, arsip, koleksi micro film dan
   microfish.
2.Kompleks aktivitas (Tindakan) :
   Berupa aktivitas manusia yang saling berinteraksi, bersifat kongkret, dapat diamati atau
   diobservasi. Wujud ini sering disebut sistem sosial. Sistem sosial ini terdiri danaktivitas-aktivitas
   manusia-manusia yang berinteraksi, berhubungan, serta bergaul satu dengan yang lain dari
   detik ke detik, dari han' ke hari, dan dari tahun ke tahun, selalu menurut pola-pola tertentu
   yang berdasarkan adat tata kelakuan. Sebagai rangkaian aktivitas manusia dalam masyarakat.
   sistem sosial bersifat konkret. terjadi disekeliling kita sehari-hari, bisa diobservasi, difoto dan
   didokumentasi.
3. Wujud sebagai benda (Artefak) :
    Aktivitas manusia yang saling berinteraksi tidak lepas dan' berbagai penggunaan peralatan
    sebagai hasil karya manusia untuk mencapai tujuannya. Aktivitas karya manusia tersebut
    menghasilkan benda untuk berbagai keperluan hidupnya. Kebudayaan dalam bentuk fisik
    yang kongkret bisa juga disebut kebudayaan fisik` mulai dari benda yang diam sampai pada
    benda yang bergerak. Ketiga wujud dari kebudayaan tadi` dalam kenyataan kehidupan masyarakat tak
    terpisah satu sama lain. Kebudayaan ideal dan adat istiadat mengatur dan memberi arah kepada
    tindakan-tindakan dan karya manusia. Baik pikiran-pikiran dan ide-ide , maupun tindakan
    dalam karya manusia. menghasilkan benda-benda kebudayaan fisiknya. Sebaliknya. kebudayaan
    fisik membentuk suatu lingkungan hidup tertentu yang makin lama makin menjauhkan manusia
    dari lingkungan alamiahnya sehingga mempengaruhi pula pola-pola perbuatannya` bahkan
    juga cara berpikimya.

D. Faktor yang mempengaruhi diterima atau tidaknya suatu unsur Kebudayaan Baru
Suatu masyarakat yang terkena proses akulturasi. selalu ada kelompok-kelompok individu
yang sukar sekali atau bahkan tak dapat menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan
yang terjadi. Pembahan-perubahan masyarakat dianggap oleh golongan tersebut sebagai
keadaan krisis yang membahayakan keutuhan masyarakat. Apabila mereka merupakan
golongan yang kuat, maka mungkin proses perubahan dapat ditahannya. Sebaliknya bila
mereka berada di pihak yang lemah. maka mereka hanya dapat menunjukkan sikap yang
tidak puas.
Berbagai faktor yang mempengaruhi diterima atau tidaknya suatu unsur kebudayaan
baru diantaranya :
1. Terbatasnya masyarakat memiliki hubungan atau kontak dengan kebudayaan dan dengan
    orang-orang yang berasal dan' luar masyarakat tersebut.
2. Jika pandangan hidup dan nilai-nilai yang dominan dalam suatu kebudayaan ditentukan
    oleh nilai-nilai agama, dan ajaran ini terjalin erat dalam keselunrhan pranata yang ada,
    maka penerimaan unsur baru itu mengalami hambatan dan harus disensor dulu oleh
    berbagai ukuran yang berlandaskan ajaran agama yang berlaku.
3. Corak struktur sosial suatu masyarakat turut menentukan proses penerimaan kebudayaan
    baru. Misalnya sistem otoriter akan sukar menerima unsur kebudayaan baru.
4. Suatu unsur kebudayaan diterima jika sebelumnya sudah ada unsur-unsur kebudayaan
    yang menjadi landasan bagi diterimanya unsur kebudayaan yang baru tersebut.
5. Apabila unsur yang baru itu memiliki skala kegiatan yang terbatas. dan dapat dengan
    mudah dibuktikan kegunaannya oleh warga masyarakat yang bersangkutan.
    Proses akulturasi yang berjalan dengan baik dapat menghasilkan integrasi antara
    unsur-unsur kebudayaan asing dengan unsur-unsur kebudayaan sendiri. Dengan demikian
    unsur-unsur kebudayaan asing tidak lagi dirasakan sebagai hal yang berasal dan' luar, akan
    tetapi dianggap sebagai unsur-unsur kebudayaan sendiri. Unsur-unsur asing yang diterima.
    tentunya terlebih dahulu mengalami proses pengolahan. sehingga bentuknya tidaklah asli lagi
    sebagai semula..Misalnya psistenr pendidikan di Indonesia. untuk sebagian besar diambil dari
    unsur-unsur kebudayaan barat. Akan tetapi sudah disesuaikan serta diolah sedemikian rupa.
    sehingga merupakan unsur-unsur kebudayaan sendiri

E. Hubungan Manusia dengan Kebudayaan
Manusia selalu berkaitan dengan adanya budaya. Contohnya seperti tarian dan bahkan pemujaan-pemujaan dalam beragama pastinya berkaitan dengan budaya. Budaya terlahir karena manusia ingin menunjukkan eksistensi kepada dengan menunjukkan keindahan secara natural. Keterkaitan ini diturunkan selama turun temurun tanpa secara ketidaksengajaan. Makanya perlu ada kelestariaan budaya secara padu agar budaya tak lekas hilang dari waktu. 

F. Proses dialektis
Dari sisi lain, hubungan antara manusia dan kebudayaan ini dapat dipandang setara
dengan hubungan antara manusia dengan masyarakat dinyatakan sebagai dialektis, maksudnya
saling terkait satu sama lain. Proses dialektis ini tercipta melalui tiga tahap yaitu :
l.  Ekstemalisasi, yaitu proses dimana manusia mengekspresikan dirinya dengan membangun
    dunianya. Melalui ekstemalisasi ini masyarakat menjadi kenyataan buatan manusia
2. Obyektivasi, yaitu proses dimana masyarakat menjadi realitas obyektif. yaitu suatu
    kenyataan yang terpisah dari manusia dan berhadapan dengan manusia. Dengan demikian
    masyarakat dengan segala pranata sosialnya akan mempengaruhi bahkan membentuk
    perilaku manusia.
3. lntemalisasi, yaitu proses dimana masyarakat disergap kembali oleh rnanusia. Maksudnya
    bahwa manusia mempelajari kembali masyarakatnya sendiri agar dia dapat hidup dengan
    baik. sehingga manusia menjadi kenyataan yang dibentuk oleh masyarakat

II. Konsep Ilmu Budaya Dasar
   A.  Pengertian Sastra dan Seni
Pengertian Sastra tidak hanya satu, tetapi dapat berkembang menurut sejarah kata dan bidang kebudayaan. Menurut sejarah kata, sastra berasal dari kata castra berarti tulisan. Dari makna asalnya dulu, sastra meliputi segala bentuk dan macam tulisan yang ditulis oleh manusia, seperti catatan ilmu pengetahuan, kitab-kitab suci, surat-surat, undang-undang, dan sebagainya. Dalam sumber lain, disebutkan juga bahwa sastra berasal dari bahasa Sansekerta. Sastra diserap dari kata śāstra. Kata ini memiliki makna teks yang mengandung instruksi atau pedoman. Śāstra memiliki kata dasar yang bermakna instruksi atau ajaran. Selanjutnya, sejalan dengan pengertian pada paragraf yang pertama, dijelaskan juga bahwa sastra dapat pula merujuk kepada semua jenis tulisan, apakah tulisan tersebut indah atau tidak. Sastra dalam arti khusus yang kita gunakan dalam konteks kebudayaan, adalah ekspresi gagasan dan perasaan manusia. Jadi, pengertian sastra sebagai hasil budaya dapat diartikan sebagai bentuk upaya manusia untuk mengungkapkan gagasannya melalui bahasa yang lahir dari perasaan dan pemikirannya.
Secara morfologis, kesusastraan dibentuk dari dua kata, yaitu su dan sastra dengan mendapat imbuhan ke- dan -an. Kata su berarti baik atau bagus, sastra berarti tulisan. Secara harfiah, kesusastraan dapat diartikan sebagai tulisan yang baik atau bagus, baik dari segi bahasa, bentuk, maupun isinya. Dalam konteks kesenian, kesusastraan adalah salah satu bentuk atau cabang kesenian yang menggunakan media bahasa sebagai alat pengungkapan gagasan dan perasaan senimannya. Sehingga sastra juga disamakan dengan cabang seni lain seperti seni tari, seni lukis, seni musik, dan sebagainya.

Pengertian Sastra dari Segi Ilmu Sastra Ada tiga hal yang berkaitan dengan pengertian sastra, yaitu ilmu sastra, teori sastra, dan karya sastra. Ilmu sastra adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki secara ilmiah berdasarkan metode tertentu mengenai segala hal yang berhubungan dengan seni sastra.
=> Ilmu sastra sebagai salah satu aspek kegiatan sastra meliputi hal-hal berikut.
1.  Teori sastra, yaitu cabang ilmu sastra yang mempelajari tentang asas-asas, hukum-hukum, prinsip dasar
      sastra, seperti struktur, sifat-sifat, jenis-jenis, serta sistem sastra.
2.   Sejarah sastra, yaitu ilmu yang mempelajari sastra sejak timbulnya hingga perkembangan yang terbaru.
3.   Kritik sastra, yaitu ilmu yang mempelajari karya sastra dengan memberikan pertimbangan dan penilaian
      terhadap karya sastra. Kritik sastra dikenal juga dengan nama telaah sastra.
 4.  Filologi, yaitu cabang ilmu sastra yang meneliti segi kebudayaan untuk mengenal tata nilai, sikap hidup,
      dan semacamnya dari masyarakat yang memiliki karya sastra.

Keempat cabang ilmu tersebut tentunya mempunyai keterkaitan satu sama lain dalam rangka memahami sastra secara keseluruhan.
=>  Teori sastra adalah asas-asas dan prinsip-prinsip dasar mengenai sastra dan kesusastraan.
=>  Seni sastra adalah proses kreatif menciptakan karya seni dengan bahasa yang baik, seperti puisi, cerpen/novel, atau drama.

Beberapa jenis pengertian Seni dari beberapa pakar ;
Alexander Baum Garton   
Seni adalah keindahan dan seni adalah tujuan yang positif menjadikan penikmat merasa dalam kebahagiaan.
Aristoteles  
Seni adalah bentuk yang pengungkapannya dan penampilannya tidak pernah menyimpang dari kenyataan dan seni itu adalah meniru alam.

Immanuel Kant  
Seni adalah sebuah impian karena rumus rumus tidak dapat mengihtiarkan kenyataan.

Ki Hajar Dewantara  
Seni merupakan hasil keindahan sehingga dapat menggerakkan persasaan indah orang yang melihatnya, oleh karena itu perbuatan manusia yang dapat mempengaruhi dapat menimbulkan perasaan indah itu seni.

Leo Tolstoy 
Seni adalah ungkapan perasaan pencipta yanng disampaikan kepada orang lain agar mereka dapat merasakan apa yang dirasakan pelukis.
Sudarmaji  Seni adalah segala manifestasi batin dan pengalaman estetis dengan menggunakan media bidang, garis, warna, tekstur, volume dan gelap terang.
    B.  Peranan Sastra dan Seni
Sastra mempunyai peranan yang lebih penting, yaitu mempergunakan bahasa yang memiliki kemampuan untuk menampung hampir semua pernyataan kegiatan manusia.Dalam usahanya untuk memahami dirinya sendiri, yang kemudian melahirkan filsafat,manusia mempergunakan bahasa. Dalam usahanya untuk memahami alam semesta yang kemudian melahirkan ilmu pengetahuan manusia dalam mempergunakan bahasa
     
    C.  Hubungan Sastra dan Seni dengan Ilmu Budaya Dasar 
Latar belakang IBD dalam konteks budaya, negara dan masyarakat Indonesia berkaitan dengan masalah sebagai berikut :
1. Kenyataan bahwa bangsa indonesia berdiri atas suku bangsa dengan segala keanekaragaman budaya yg
    tercemin dalam berbagai aspek kebudayaannya, yg biasanya tidak lepas dari ikatan-ikatan primordial,
    kesukaan, dan kedaerahan .
2. Proses pembangunan yg sedang berlangsung dan terus menerus menimbulkan dampak positif dan negatif
    berupa terjadinya perubahan dan pergeseran sistem nilai budaya sehingga dengan sendirinya mental
    manusia pun terkena pengaruhnya .
3. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi menimbulkan perubahan kondisi kehidupan mausia,
    menimbulkan konflik dengan tata nilai budayanya, sehingga manusia bingung sendiri terhadap kemajuan
    yg telah diciptakannya 

Jadi didalam konteks ini sastra dan seni menjadi sangat berperan penting dalam Ilmu Budaya Dasar yang membawa aspek keragaman dalam Bangsa yang menjadi kelengkapan berbangsa dan bernegara.

    D.  Ilmu Budaya Dasar dihubungkan dengan Prosa
Istilah prosa banyak padanannya. Kadang-kadang disebut nanative fiction, prose fiction
atau hanya fiction saja Dalam bahasa Indonesia istilah tadi sering diterjemahkan menjadi
cerita rekaan dan didefinisikan sebagai bentuk cerita atau prosa kisahan yang mempunyai
pemeran. lakuan, peristiwa dan alur yang dihasilkan oleh daya khayal atau imajinasi. Istilah
cerita rekaan umumnya dipakai untuk roman, atau novel, atau cerita pendek.
Dalam kesusastraan Indonesia kita mengenal jenis prosa lama / non fiksi dan prosa baru / fiksi.
A. Prosa lama meliputi
1. dongeng-dongeng
2. hikayat
3. sejarah
4. epos
5. cerita pelipur lara

B.Prosa baru meliputi
1. cerita pendek
2. romanlnovel
3. biografi
4. kisah
5. otobiografi

   E.  Nilai - nilai dalam prosa fiksi
Sebagai seni yang bertulang punggung cerita. mau tidak mau karya sastra (prosa fiksi)
langsung atau tidak langsung membawakan moral, pesan atau cerita. Dengan perkataan lain
prosa mempunyai nilai-nilai yang diperoleh pembaca lewat sastra Adapun nilai-nilai yang
diperoleh pembaca lewat sastra antara lain :

l. Prosa fiksi memberikan kesenangan
Keistimewaan kesenangan yang diperoleh dari membaca fiksi adalah pembaca
mendapatkan pengalaman sebagaimana mengalarninya sendiri peristiwa itu peristiwa atau
kejadian yang dikisahkan. Pembaca dapat mengembangkan imajinasinya untuk mengenal
daerah atau tempat yang asing, yang belum dikunjunginya atau yang tak mungkin dikunjungi
selama hidupnya. Pembaca juga dapat mengenal tokoh-tokoh yang aneh atau asing tingkah
lakunya atau mungkin mmit perjalanan hidupnya untuk mencapai sukses.

2. Prosa fiksi memberikan informasi
Fiksi memberikan sejenis informasi yang tidak terdapat di dalam ensiklopedi. Dalam
novel sering kita dapat belajar sesuatu yang lebih daripada sejarah atau laporan jumalistik
tentang kehidupan masa kini, kehidupan masa lalu, bahkan juga kehidupan yang akan datang
atau kehidupan yang asing sama sekali.

3. Prosa fiksi memberikan warisan kultural
Prosa fiksi dapat menstimuli imaginasi, dan merupakan sarana bagi pemindahan yang
tak henti-hentinya dari warisan budaya bangsa.
Novel seperti Siti Nurbaya, salah asuhan, sengsara membawa nikmat, layar terkembang
mengungkapkan impian-impian, harapan-harapan, aspirasi-aspirasi dari generasi yang terdahulu
yang seharusnya dihayati oleh generasi kini. Novel yang berlatar belakang perjuangan revolusi
seperti jalan tak ada ujung, misalnya menggambarkan suatu tindakan heroisme yang
mengagumkan dan memberikan kebanggaan, yang oleh generasi muda sekarang tidak lagi
mengalaminya secara fisik. Dan oleh karena mahasiswa tidak lagi mengalami secara fisik
itulah, jiwa kepahlawanan perlu disentuhkan lewat hasil-hasil sastra.

4. Prosa memberikan keseimbangan wawasan
Lewat prosa fiksi seseorang dapat menilai kehidupan berdasarkan pengalaman-
pengalarnan dengan banyak individu. Fiksi juga memungkinkan labih banyak kesempatan
untuk memilih respon-respon emosional atau rangsangan aksi yang mungkin sangat berbeda
daripada apa yang disajikan dalam kehidupan sendiri.
Adanya semacam kaidah kemungkinan yang tidak mungkin dalam fiksi inilah yang
memungkinkan pembaca untuk dapat memperluas dan memperdalam persepsi dan wawasannya
tentang tokoh, hidup dan kehidupan manusia

    Istilah prosa banyak padanannya. Kadang-kadang disebut nanative fiction, prose fiction
atau hanya fiction saja Dalam bahasa Indonesia istilah tadi sering diterjemahkan menjadi
cerita rekaan dan didefinisikan sebagai bentuk cerita atau prosa kisahan yang mempunyai
pemeran. lakuan, peristiwa dan alur yang dihasilkan oleh daya khayal atau imajinasi. Istilah
cerita rekaan umumnya dipakai untuk roman, atau novel, atau cerita pendek.
Dalam kesusastraan Indonesia kita mengenal jenis prosa lama dan prosa baru.
    A. Prosa larna meliputi
1. dongeng-dongeng
2. hikayat
3. sejarah
4. epos
5. cerita pelipur lara

   B. Prosa baru meliputi
1. cerita pendek
2. romanlnovel
3. biografi
4. kisah
5. otobiografi

   F.  Ilmu Budaya Dasar dengan Puisi
Puisi dari bahasa Yunani kuno: ποιέω/ποιῶ (poiéo/poió) = I create) adalah seni tertulis di mana bahasa digunakan untuk kualitas estetiknya untuk tambahan, atau selain arti semantiknya.
Unsur-unsur puisi meliputi struktur fisik dan struktur batin puisi

Struktur fisik puisi
Struktur fisik puisi terdiri dari:
  • Perwajahan puisi (tipografi), yaitu bentuk puisi seperti halaman yang tidak dipenuhi kata-kata, tepi kanan-kiri, pengaturan barisnya, hingga baris puisi yang tidak selalu dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik. Hal-hal tersebut sangat menentukan pemaknaan terhadap puisi.
  • Diksi, yaitu pemilihan kata-kata yang dilakukan oleh penyair dalam puisinya. Karena puisi adalah bentuk karya sastra yang sedikit kata-kata dapat mengungkapkan banyak hal, maka kata-katanya harus dipilih secermat mungkin. Pemilihan kata-kata dalam puisi erat kaitannya dengan makna, keselarasan bunyi, dan urutan kata.
  • Imaji, yaitu kata atau susunan kata-kata yang dapat mengungkapkan pengalaman indrawi, seperti penglihatan, pendengaran, dan perasaan. Imaji dapat dibagi menjadi tiga, yaitu imaji suara (auditif), imaji penglihatan (visual), dan imaji raba atau sentuh (imaji taktil). Imaji dapat mengakibatkan pembaca seakan-akan melihat, medengar, dan merasakan seperti apa yang dialami penyair.
  • Kata konkret, yaitu kata yang dapat ditangkap dengan indera yang memungkinkan munculnya imaji. Kata-kata ini berhubungan dengan kiasan atau lambang. Misalnya kata kongkret “salju: melambangkan kebekuan cinta, kehampaan hidup, dll., sedangkan kata kongkret “rawa-rawa” dapat melambangkan tempat kotor, tempat hidup, bumi, kehidupan, dll.
  • Gaya bahasa, yaitu penggunaan bahasa yang dapat menghidupkan/meningkatkan efek dan menimbulkan konotasi tertentu. Bahasa figuratif menyebabkan puisi menjadi prismatis, artinya memancarkan banyak makna atau kaya akan makna. Gaya bahasa disebut juga majas. Adapaun macam-amcam majas antara lain metafora, simile, personifikasi, litotes, ironi, sinekdoke, eufemisme, repetisi, anafora, pleonasme, antitesis, alusio, klimaks, antiklimaks, satire, pars pro toto, totem pro parte, hingga paradoks.
  • Rima/Irama adalah persamaan bunyi pada puisi, baik di awal, tengah, dan akhir baris puisi. Rima mencakup:
  1. Onomatope (tiruan terhadap bunyi, misal /ng/ yang memberikan efek magis pada puisi Sutadji C.B.),
  2. Bentuk intern pola bunyi (aliterasi, asonansi, persamaan akhir, persamaan awal, sajak berselang, sajak berparuh, sajak penuh, repetisi bunyi [kata], dan sebagainya
  3. Pengulangan kata/ungkapan. Ritma merupakan tinggi rendah, panjang pendek, keras lemahnya bunyi. Rima sangat menonjol dalam pembacaan puisi.
Struktur batin puisi
Struktur batin puisi terdiri dari
Tema/makna (sense); media puisi adalah bahasa. Tataran bahasa adalah hubungan tanda dengan makna, maka puisi harus bermakna, baik makna tiap kata, baris, bait, maupun makna keseluruhan.
  • Rasa (feeling), yaitu sikap penyair terhadap pokok permasalahan yang terdapat dalam puisinya. Pengungkapan tema dan rasa erat kaitannya dengan latar belakang sosial dan psikologi penyair, misalnya latar belakang pendidikan, agama, jenis kelamin, kelas sosial, kedudukan dalam masyarakat, usia, pengalaman sosiologis dan psikologis, dan pengetahuan. Kedalaman pengungkapan tema dan ketepatan dalam menyikapi suatu masalah tidak bergantung pada kemampuan penyairmemilih kata-kata, rima, gaya bahasa, dan bentuk puisi saja, tetapi lebih banyak bergantung pada wawasan, pengetahuan, pengalaman, dan kepribadian yang terbentuk oleh latar belakang sosiologis dan psikologisnya.
  • Nada (tone), yaitu sikap penyair terhadap pembacanya. Nada juga berhubungan dengan tema dan rasa. Penyair dapat menyampaikan tema dengan nada menggurui, mendikte, bekerja sama dengan pembaca untuk memecahkan masalah, menyerahkan masalah begitu saja kepada pembaca, dengan nada sombong, menganggap bodoh dan rendah pembaca, dll.
  • Amanat/tujuan/maksud (itention); yaitu pesan yang ingin disampaikan penyair kepada pembaca

    Kepuitisan, keartistikan atau keestetikan bahasa puisi disebabkan oleh kreativitas penyair
    dalam membangun puisinya dengan menggunakan :
    l. Figura bahasa ( figurative language ) seperti gaya personifikasi, metafora, perbandingan,
    alegon', dsb sehingga puisi menjadi segar, hidup, menarik dan memberi kejelasan garnbaran
    angan.
    2. Kata-kata yang arnbiquitas yaitu kata-kata yang bermakna ganda, banyak tafsir.
    3. Kata-kata berjiwa yaitu kata-kata yang sudah diberi suasana tertentu, berisi perasaan dan
    pengalaman jiwa penyair sehingga terasa hidup dan memukau.
    4. Kata-kata yang konotatif yaitu kata-kata yang sudah diberi tambahan nilai-nilai rasa dan
    asosiasi-asosiasi tertentu.
    5. Pengulangan, yang berfungsi untuk mengintensiflran hal-hal yang dilukiskan, sehingga
    lebih menggugah hati
    Dibalik kata-katanya yang padat, ekonomis dan sukar dicema maknanya itu, puisi
    berisi potret kehidupan manusia. Puisi menyuguhkan kepada kita suasana-suasana dan
    peristiwa-peristiwa kehidupan manusia

     Contoh Puisi :



    Kuberjalan dalam sebuah hampa

    Tak kenal arah dalam sebuah haluan

    Terombang - ambing dalam keraguan

    Hingga ku tak tahu apa - apa

    Berbagai cara ku lalui dengan tegar

    Walau banyak yang menantang menghambat

    Ku tak kan terhenti hingga tak terlambat

    Ku kan terus mencoba walau keberuntungan tak kunjung hadir

    Hentakan kaki

    Melangkah pasti

    Bagaikan jarum jam berputar untuk negri

    Menunggu hingga nyata bagai mimpi

    Berikan yang terbaik apapun yang terjadi, hingga nyawa ini untuk negri yang kucintai


     





Jumat, 14 Maret 2014

Etika Dan Moralitas


Etika dalam bahasa Yunani kuno disebut dengan ethikos memiliki arti 'timbul dari kebiasaan' yang merupakan ilmu filsafat yang mempelajari penilaian moral seseorang. Hal-hal yang terkait dengan etika antara lain adalah baik dan buruk, benar-salah, dan tanggung jawab yang ditunjukkan oleh seseorang, berikut penjelasannya. Etika adalah nilai-nilai perilaku bagi seseorang dalam membangun kepribadian terhadap lingkungan sekitar dalam mengatur sikap, tindakan ataupun ucapannya baik maupun buruk didalam hidup bermasyarakat.
Sedangkan pengertian Moral adalah penilaian oleh manusia kepada manusia lainnya yang merujuk pada hal-hal positif. Misalnya seseorang dikatakan memiliki moral yang baik karena melakukan hal-hal terpuji. Apabila manusia tersebut tidak mempunyai sikap baik maka biasa disebut dengan amoral.
 
Nilai merupakan hal-hal yang dapat diterima atau yang tidak dapat diterima oleh masyarakat.
Norma merupakan ukuran atau patokan bagi seseorang untuk berperilaku dalam masyarakat.

Perbedaan Etika dengan Moralitas
Menurut Solomon (1987) nilai-nilai normatif atau pola perilaku seseorang atau badan/lembaga organisasi sebagai suatu kelaziman yang dapat diterima umum dalam interaksi dengan lingkungannya. Sedangkan moralitas seseorang dapat menjadi faktor pendorong  terbentuknya perilaku yang sesuai dengan etika, tetapi nilai-nilai moralitas seseorang mungkin saja bertentangan dengan nilai etika yang berlaku dalam lingkungannya.   
Prinsip-Prinsip Etika
1.      Keindahan (Beauty)
2.      Persamaan (Equity)
3.      Kebaikan (Goodness)
4.      Keadilan (Justice)
5.      Kebebasan (Liberty)
6.      Kebenaran (Truth)

Etika dibagi menjadi 2 yaitu etika umum dan etika khusus.
Berikut ini adalah karakteristk etika umum :
-      Memiliki sikap jujur, optimis, kreatif, rasional, mampu berfikir kritis, rendah hati, demokratis, sopan, mengutamakan kejujuran akademik, menghargai waktu dan terbuka terhadap perkembangan ipteks. Contohnya menjadi mahasiswa yang berkualitas dalam beretika baik.
-    Mampu merancang, melaksanakan dan menyelesaikan studi dengan baik. Contohnya mulai dari merancang pilihan jurusan yang sesuai kemauan kemudian dilaksanakan studinya untuk menyelesaikan studi tepat waktu.
-     Mampu menciptakan kehidupan kampus yang aman, nyaman, bersih, tertib dan kondusif. Contohnya menjaga kebersihan, mematuhi tata tertib dalam lingkungan kampus untuk menghasilkan suasana yang aman dan nyaman.
-   Mampu bertanggungjawab secara moral, spiritual dan sosial untuk mengamalkan ipteks. Contohnya mampu mengajarkan ilmu yang diperoleh kepada orang lain untuk dibidang moral, spiritual dan sosial.
Berikut ini adalah karakteristk etika khusus :
-       Berpakaian rapi, bersih, sopan, serasi sesuai dengan konteks keperluan. Contohnya mengenakan pakaian sesuai pada penempatan waktu dan keperluan. Misalnya berpakaian melayat berbeda dengan berpakaian saat berpesta.
-     Bergaul, bertegur sapa dan bertutur kata dengan sopan,  wajar,  simpatik, edukatif, bermakna sesuai dengan norma  moral yang berlaku. Contohnya ketika berteman atau bergaul dengan orang lain kita harus bertegur sapa dan berkata sopan, wajar dan bermakna ini bertujuan untuk menjalin tali silaturahmi.
-    Mengembangkan iklim penciptaan karya ipteks yang mencerminkan kejernihan hati nurani, bernuansa pengabdian pada Tuhan Yang Maha Esa dan mendorong pada kualitas hidup kemanusiaan. Contohnya kita mengembangkan hasil alam dengan cara tidak merusak alam tersebut.

Pengertian Profesi
Profesi adalah pekerjaan yang dilakukan sebagai kegiatan pokok untuk menghasilkan nafkah hidup & yang mengandalkan suatu keahlian.
Karakteristik Etika Profesi
-      Memiliki kepribadian yang tangguh yang bercirikan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, kreatif dan mandiri.
-         Mampu melaksanakan praktik bimbingan dan konseling secara professional.
-    Memiliki wawasan psiko-sosial kependidikan dan kemampuan memberdayakan warga belajar dalam konteks lingkungannya.
-         Memiliki pengetahuan tentang hakikat, tujuan dan prinsip evaluasi pendidikan.
-         Mampu menerapkan fungsi manajemen dan kepemimpinan pendidikan dalam berbagai konteks.
-         Memiliki wawasan yang luas tentang teknologi pembelajaran.
-         Mampu menerapkan berbagai prinsip teknologi pembelajaran dalam berbagai konteks.
-         Mampu memecahkan masalah pendidikan melalui teknologi pembelajaran.
-         Mampu mengembangkan dan mempraktikkan kerja sama dalam bidangnya dengan pihak terkait.
Ciri-Ciri Profesi
1.   Adanya pengetahuan khusus, yang biasanya keahlian dan keterampilan ini dimiliki berkat pendidikan, pelatihan dan pengalaman yang bertahun-tahun.
2.     Adanya kaidah dan standar moral yang sangat tinggi. Hal ini biasanya  setiap pelaku profesi mendasarkan kegiatannya pada kode etik profesi.
3.    Mengabdi pada kepentingan masyarakat, artinya setiap pelaksana profesi  harus meletakkan kepentingan pribadi di bawah kepentingan masyarakat.
4.   Izin khusus untuk menjalankan suatu profesi. Setiap profesi akan selalu berkaitan dengan kepentingan masyarakat, dimana nilai-nilai kemanusiaan berupa keselamatan, keamanan, kelangsungan hidup dan sebagainya, maka untuk menjalankan suatu profesi harus terlebih dahulu ada izin khusus.
5.     Kaum profesional biasanya menjadi anggota dari suatu profesi.
Prinsip Etika Profesi
1.      Tanggung Jawab
2.      Keadilan
3.      Otonomi
Jenis Bidang Profesi            
1. Profesi Khusus adalah para professional yang melaksanakan profesi secara khusus untuk mendapatkan nafkah atau penghasilan tertentu sebagai tujuan pokoknya. Contohnya dokter, pendidik/guru, konsultan, dan lain-lain.
2.    Profesi Luhur adalah para professional yang melaksanakan profesinya tidak lagi untuk mendapatkan nafkah sebagai tujuan utamanya, tetapi sudah merupakan dedikasi atau sebagai jiwa pengabdiannya semata-mata. Contohnya profesi pada bidang keagamaan dan seni.
Ciri Khas Profesi
Dalam International Encyclopedia of education, terdapat 10 ciri khas suatu profesi dikemukakan yaitu :
1.      Suatu bidang pekerjaan yang terorganisir dari jenis intelektual yang terus berkembang dan diperluas.
2.      Suatu teknik intelektual.
3.      Penerapan praktis dari teknik intelektual pada urusan praktis.
4.      Suatu periode panjang untuk pelatihan dan sertifikasi.
5.      Beberapa standar dan pernyataan tentang etika yang dapat diselenggarakan.
6.      Kemampuan untuk kepemimpinan pada profesi sendiri.
7.    Asosiasi dari anggota profesi yang menjadi suatu kelompok yang erat dengan kualitas komunikasi yang tinggi antar anggotanya.
8.      Pengakuan sebagai profesi.
9.      Perhatian yang profesional terhadap penggunaan yang bertanggung jawab dari pekerjaan profesi.
10.  Hubungan yang erat dengan profesi lain.
Sumber : - http://ddsulai.blogspot.com/2013/04/pengertian-dan-perbedaan-moral-etika.html 
                - file materi selaku dosen Etika dan Profesionalisme T.S.I oleh Ibu Atit Pertiwi